Saya meneruskan artikel ini ke milis PPSDMS. Di sana ditulis jika Prabowo dan saudaranya, Hashim, menguasai lebih dari 3 juta hektar tanah Indonesia, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ditambahkan juga bahwa mereka berdua menguasai hak pengolahan minyak di beberapa negara di Asia Tengah. Tidak perlu ditanyakan betapa kayanya mereka.
Selesai membaca artikel tersebut, saya malah jadi luntur semangat. Buat saya, jungkir-balik sekolah dan bekerja bertahun – tahun, kemungkinan bisa beli tanah setengah juta hektar saja di Indonesia mungkin tidak begitu besar peluangnya. (Apalagi kalau presidennya bukan Gus Dur, hehe…)
Reaksi seorang teman kurang lebih sama. Dia bertanya “Seberapa hebatnya sih Prabowo hingga dia bisa mencapai posisi seperti sekarang?”.
Dasar geek, yang ada di pikiran saya adalah beberapa strategi estimasi ekonometrika dan instrumental variabel. Ups, sorry.
Begini:
Pertanyaan yang (hampir) sama sudah lama ingin dijawab oleh para ekonom. Mereka ingin tahu seberapa besar sih sebenarnya return to education itu.
Seperti kita tahu, orang dengan pendidikan lebih tinggi secara rata-rata mempunyai gaji yang lebih tinggi daripada mereka yang pendidikannya lebih rendah. Namun, logika juga mengatakan bahwa mereka yang memilih untuk bersekolah lagi adalah mereka yang mempunyai kemampuan (akademis, intelektual) di atas rata-rata. Nah pertanyaannya: “seberapa besarkah (dari relatif-tingginya) gaji karyawan berpendidikan tinggi itu dikontribusikan oleh tambahan pendidikan mereka?”. Atau, bisa juga pertanyaannya diubah jadi: “Jika kita bisa menemukan dua orang sama persis kemampuan, kecerdasan dan pengalamannya, yang satu berpendidikan S1 dan yang lain berpendidikan S2, seberapa besar gaji mereka berdua bakal berbeda?”.
Tentu ini penting buat kebanyakan kita. Sebanding ga sih biaya yang kita keluarkan untuk sekolah lagi (biaya waktu, biaya uang, dan biaya kesempatan: kita ga dapat gaji karena kita ga bekerja) dengan kemungkinan kenaikan gaji kita di masa depan?
Kembali ke Prabowo, pertanyaannya menjadi:
Seberapa besarkah kesuksesan (kekayaan) Prabowo sekarang ini bisa dijelaskan oleh kepandaiannya? Tentu, untuk menjawabnya, kita harus mampu menghilangkan beberapa keistimewaan Prabowo (faktor anak menteri, menantu presiden, perwira tinggi ABRI, atau bahkan kakak ipar (mantan) gubernur BI).
Buat siapa jawaban pertanyaan ini penting?
- Buat yang ingin mencebur ke aktivitas politik. Anda bisa mengira-ngira seberapa besar potensi ‘keuntungan’ yang anda dapat jika anda dekat dengan kekuasaan.
- Buat pengambil kebijakan publik. Seberapa besar dari ‘keuntungan’ dekat dengan kekuasaan ini bisa diidentifikasi sebagi nepotisme dan atau korupsi.
- Buat mahasiswa PhD yang kesulitan mencari topik disertasi. Saya pastikan topik ini bisa dipublikasikan di American Economic Review!
Sebelum ditutup:
Simak cerita berikut ini. Meskipun (relatif) sama – sama dekat dengan kekuasaan, kekayaan Fahmi Idris (pemilik Four Seasons hotel) sangat jauh berbeda dengan Prabowo. Apa ini indikasi bahwa kepandaian mereka berdua juga berbeda jauh?
Terakhir, sejauh yang saya tahu, topik semacam ini pernah dibahas di Chapter 2 buku Economic Gangster dengan Tommy (dan anak2 presiden Soeharto lainnya) sebagai studi kasusnya.