Alarm Hotel dan… Eksternalitas

Cerita Alif, written by Alif

Ini sedikit ceceran cerita dari jalan – jalan ke Oslo kemarin. Kami menginap di Thon Hotel Astoria, budget hotel yang tidak terlalu jauh letaknya dari Stasiun Kereta utama Oslo.

Saat check-in si mbak-mbak resepsionis bilang kalau dia punya 3 kamar kosong: 2 lumayan tua, yang 1 baru. Kamar yang baru ini sedikit kurang nyaman (menurut dia) karena letaknya yang menghadap ke jalan. Asumsi saya, mungkin kamar ini bakal lebih berisik. Dan karena kami membawa serta Nadiyya, faktor ‘berisik’ ini  jadi pertimbangan utama. Si mbak – mbak nya seperti paham kebingungan saya, dia langsung menambah: ‘Tapi ini di lantai paling atas kok’. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan.

Semuanya berjalan baik-baik saja, kami puas 100% atas kenyamanan kamar. Nyaman sekali sampai pagi menjelang dan…

Alarm kebakarannya berbunyi!! Nyaring sekali, benar – benar nyaring. Suasananya mengingatkan saya ke acara Persami atau perplonco-an di SMP/SMA dulu: kita susah tidur karena berdesak – desakan di tenda dan cuma beralas tikar, eh baru bisa tidur agak telat, senior – senior ‘bikin ulah’, kita disuruh bangun, ganti baju, bersiap, berbaris di gelap – gelap. Suasananya persis seperti itu dengan penyebabnya sedikit berbeda. Kalau dulu waktu SMP/SMA kita terlalu capek  gara – gara kebanyakan acara di siang hari, kemarin saya kecapekan gara – gara ngikutin ‘jadwal perjalanan’ dinda yang padat (KBRI, kedutaan Inggris, Folke Museum, Warung Kebab, Toko Bayi 1, Toko Daging 1, Nyari Indomie, Toko Bayi 2, Cari Saus ABC di Meny, Cari Saus ABC di toko lain, Butik Zara — break ISHOMA (beneran, istirahat, shalat, makan) — dilanjutkan malamnya ke Kiwi dan Rimi (cari makanan Nadiyya) dan ke Narvesen (cari majalah dinda)).

Balik ke cerita. Setelah alarm-nya bunyi, kami berdua langsung bangun. Masih mengantuk sekali ditambah kepala yang pusing karena bunyi alarm yang benar – benar bising. Saya sempet mau cuek, ga usah turun-lah, karena sudah jadi kebiasaan kalau alarm kebakaran di Norway ini sensitif sekali. Paling – paling sebentar lagi beres, begitu pikir saya. Belum lagi rasa malas berganti baju dari kaos oblong dan sarung ke pakaian non tidur yang harus dirangkap dengan long-john dulu karena suasana yang masih pagi dan dingin sekali tentunya.

Saya sempat telpon ke resepsionis, coba mengonfirmasi apakah ini alarm riil atau alarm palsu, tapi resepsionis tidak menjawab. Beberapa menit kemudian lorong di luar kamar mulai gaduh, dinda (tidak berjilbab) cuek saja dan membuka pintu: ‘What is happening?’ ‘Fire Alarm‘, kata bule yang lewat, uh, jawaban ga mutu. Mungkin seperti saya, dinda ingin jawaban yang lebih spesifik: kenapa alarm-nya berbunyi. Kebakaran besar-kah (naudzubillah), rokok-kah, atau kelalaian kecil seperti sering terjadi di asrama UI dulu, orang lupa mematikan heater air atau setrika.

Kami jadi tambah panik karena alarm yang nyaring membuat Nadiyya terjaga. Ia mulai menangis. Tanpa pikir panjang lagi, dinda memeluk Nadiyya dan menggendongnya keluar dengan bertelanjang kaki dan tidak memakai jilbab. Saya hanya sempat menyambar 2 helai jaket, satu yang tebal saya berikan ke dinda, yang tipis saya rencanakan untuk menyelimuti Nadiyya. Kami berjalan menuju tangga darurat (Lift tidak berfungsi).  Silahkan dibayangkan: masih setengah mengantuk, agak kedinginan, menuruni tangga dari lantai 6 (paling tinggi) menuju lantai 1. Di lantai 3 saya memutuskan kembali ke kamar (lantai 6) untuk mengambil kantung tidur dan selimut Nadiyya.

Singkat cerita, saya bertemu lagi dengan dinda dan Nadiyya di lantai 1.Suasananya ramai oleh tamu – tamu hotel dan beberapa petugas pemadam kebakaran. Tidak berapa lama (3 menit mungkin), kami diperbolehkan kembali lagi ke kamar. Sepertinya masalahnya tidak terlalu serius. Saya bahkan terlalu malas unttuk menanyakan apa yang terjadi.

OK, sekarang waktunya untuk pelajaran ekonomi (langsung ditutup saja window-nya buat yang tidak berkenan, hehe). Kalau anda masih disini, hehe…., ‘ibroh ekonomi‘ cerita di atas kurang lebih:

  1. Hotel kerap kali memukul rata harga sewa kamarnya. Beberapa diskriminasi harga (lebih murah) biasa diberikan kepada ‘early bird‘ customer, mereka yang jauh hari membuat reservasi. Biaya sewa kamar mungkin hanya memperhitungkan ongkos pelayanan dan kebersihan setelah jasa diberikan. Mereka yang mendapat kamar lebih besar membayar lebih mahal, dan sebaliknya. Semua tamu hotel membayar sesuai dengan layanan yang mereka terima. Normal.
  2. Ketidakadilan muncul dalam kasus di atas. Di kasus kebakaran, tamu – tamu yang tinggal di lantai ‘relatif tinggi’ akan mempunyai peluang lebih kecil untuk selamat dibanding mereka yang tinggal di lantai ‘relatif rendah’. ‘Keuntungan’ dan ‘kerugian’ tersembunyi ini tidak tercermin di harga sewa kamar. Seharusnya, tamu dengan peluang selamat paling kecil diberi kompensasi dengan membayar harga hotel yang lebih murah, dan sebaliknya.
  3. Di beberapa kasus, bisa jadi tamu yang menempati kamar hotel di lantai ‘tinggi’ beroleh lebih banyak keuntungan, misalnya dengan pemandangan yang lebih bagus.
  4. Harga sewa kamar yang paling efisien (artinya yang paling memberikan kepuasan maksimal bagi tamu hotel dan juga pemilik hotel) bisa dicapai lewat mekanisme tawar – menawar antar tamu hotel. dan pemilik hotel. Dan, ya… tidak umum sekali bagi tamu hotel untuk melakukan metode ini. Terlalu repot, bahasa ilmu ekonomi mengatakan ‘transaction cost’-nya terlalu tinggi.
  5. Kasus di atas sering dikenal dengan sebutan eksternalitas.

Terdengar remeh? Mungkin.

Sekedar informasi, penelitian (dan penjelasan) yang lebih sistematis dan ilmiah terhadap contoh di atas mengantar Ronald Coase memenangkan nobel ekonomi di tahun 1991.


4 Responses to “Alarm Hotel dan… Eksternalitas”

  1. Anggie
    11:38 pm on April 6th, 2009

    Jd intinya, apa yg menyebabkan alarm itu berbunyi pak Alif? kentang nih…ceritanya kurang komplit hehe…
    —————————
    nggak ditanyain Nggi. Ga sampai 3 menit udah boleh balik lagi. Pasti ga serius lah. hehe

  2. bunda zikra
    11:13 pm on April 7th, 2009

    hahaha, lif begitu baca ‘waktunya pelajaran ekonomi’ gue langsung scroll down mousenya ke komen hihi..:)

    aduh ngebayangin bawa2 anak dalam kejadian begitu, gila itu hotel. mau ngerjain orang apa gimana sih? sukurlah gak kenapa2 yah:(

    makanya lain kali kalo mau jalan2 ajakin zikra dan bunda dong ummi *loh?* hehe seneng ya nad jalan2 mulu:)

  3. Afif
    8:17 am on April 8th, 2009

    Hahaha kok sama sih say kayak gue…pas udah bagian bawah gue mulai agak pusing untuk bacanya hihi.

    Syukurlah say nggak kenapa2..nauzubillah sampai ada kejadian yg serem2…

    Iyahh zikra…lain kali ketemuan ya trus kita jalan bareng deh:).

  4. Emma
    10:34 pm on April 25th, 2009

    People should read this.

Leave a Reply