Selalu banyak olok-olok tentang ekonom.
Satu yang mungkin pas dengan note ini adalah olokan Harry Truman. Syahdan, Ia meminta dicarikan ekonom dengan satu tangan. Ekonom, menurut Truman — dan Ia benar — selalu berfikir a la: “on the one hand ….. and on the other hand….”
Dalam kerangka pikir itu, mari kita lihat program populis pasangan capres-cawapres yang disampaikan lewat iklan di KOMPAS. Dari banyak program, saya tertarik membahas: “Membagi sedikitnya 1 juta laptop kepada mahasiswa, guru dan pelajar!”
Mari kita awali dengan yang mudah.
On the one hand, program ini memungkinkan produktivitas mahasiswa, guru, dan pelajar menjadi meningkat. Mereka yang sebelumnya cuma bisa ber-komputer ria di rental komputer, sekarang bisa memakai komputer pribadi. Yang ritme kerjanya terhambat karena cuma punya PC, sekarang bisa bekerja di mana saja dan kapan saja. Dan manfaat – manfaat lainnya yang tentu masih banyak.
Apa on the other hand-nya?
Barusan saya browsing cepat. Saya temukan harga laptop termurah berada di kisaran US$ 300 sampai katakanlah US$ 1.000 (tentu, masih ada laptop lebih mahal dari itui). Dirupiahkan, angka itu menjadi sekitar Rp. 3 juta – Rp. 10 juta. Kali satu juta laptop, menjadi 3 T – 10 T. Di titik ini sebenarnya saya sangat ingin berkata, kata orang Jawa, opo sumbut? Pantas tidak uang segitu dipakai “cuma” untuk beli laptop? Apa tidak sebaiknya untuk bikin ini dan itu yang lain? Tapi lagi – lagi mari kita tinggalkan pikiran ini. Mari kita asumsikan bahwa duit 3 T – 10 T itu memang paling tepat dibelanjakan untuk laptop dan tidak ada hal lain yang lebih penting daripada laptop.
Apa efeknya?
Mengasumsikan komponen laptop adalah 100% impor, program “hebat” ini berpotensi mengikis devisa dan lebih jauh menekan nilai tukarupiah. Dengan peningkatan permintaan dolar sebesar 0,3 – 1 milyar dalam setahun, kurs rupiah berpotensi melemah signifikan. Pelemahan rupiah akan membuat harga barang impor menjadi naik. Apa saja barang impor itu? Banyak. Tapi yang pertama saya ingat adalah kedelai. Seperti yang terjadi di awal tahun kemarin, melonjaknya harga kedelai membuat tempe jadi mahal. Tempe jadi mahal, sumber gizi murah tertiadakan. Dalam jangka panjang, kurang gizi bisa menyebabkan kebodohan.
Ah, mungkin saya yang bodoh.
Tidak mungkin pasangan pengusung ekonomi kerakyatan buang – buang duit segitu banyak ke luar negeri tiap tahunnya. Mungkin ini sebuah trik cerdas untuk mendorong industri laptop dan turunannya di Indonesia bertumbuh.
Mari bikin asumsi kedua.
Beberapa komponen laptop HARUS dibikin di dalam negeri. Ambil 50%. Itu sama saja dengan bilang 500 ribu laptop HARUS diproduksi di Indonesia. Sama saja bilang pabrik laptop domestik HARUS mampu bikin 1.369 laptop dalam satu hari. Tidak peduli hari libur, tidak peduli puasa, tidak peduli listrik yang byar pet, tidak peduli dengan semua hal lainnya.
Kok sepertinya susah?
Mari kita longgarkan asumsinya. Mari kita turunkan. 250.000 laptop harus diproduksi tiap tahun (680 laptop sehari), tidak peduli hari libur dan tidak peduli dengan apapun lainnya. Asumsikan lagi bahwa industri dalam negeri mampu.
Apa konsekuensinya?
Perubahan yang drastis di perekonomian. Dana – dana perbankan mungkin banyak mengalir ke industri laptop dan turunannya. IT-related jobs akan makin dicari, dus, gaji mereka semakin tinggi. Industri laptop dan turunannya sumber daya. Menciptakan banyak tenaga kerja. Bagus bukan? Tentu on the one hand.
Bagaimana dengan on the other hand?
Bunga bank jadi semakin tinggi karena permintaan kredit meningkat. Industri laptop dan turunannya mungkin bisa membayar bunga tinggi, tapi bagaimana dengan industri yang lain yang return-nya lebih rendah secara relatif? Bagaimana UKMK?
Bukan hanya kapital, tenaga kerja-pun akan bergerak ke sana. Mengasumsikan pabrik – pabrik berlokasi di kota, banyak tenaga kerja akan meninggalkan desa. Keuntungan menanam padi mungkin tidak menarik lagi bagi petani dibanding, misalnya, jadi tukang ojek di dekat pabrik laptop. Tidak ada petani, tidak ada nasi. Tidak ada nasi, kelaparan menanti.
Dus, sejuta laptop setahun mencerdaskan bangsa, membuka lapangan pekerjaan, mendorong industri laptop dan turunannya bertumbuh (on the one hand) tapi menyebabkan urbanisasi, orang malas menanam padi, harga tempe jadi naik dan ujungnya kelaparan dan kebodohan (on the other hand).
Mungkinkah? Ah jangan – jangan saya jadi ikut Harry Truman: memperolok ilmu ekonomi dengan analisa omong kosong ini.
Bacaan “senada”:
1. Illuminating the Unseen by Russ Roberts.
2. Understanding Why Crime Fell in 1990s: Four Factors that Explain the Decline and Six that Do Not by Steven Levitt (in pdf)