Posts Tagged ‘Politik’

Sejuta Laptop Penyebab Kelaparan dan Kebodohan

Saturday, May 30th, 2009

Selalu banyak olok-olok tentang ekonom.

Satu yang mungkin pas dengan note ini adalah olokan Harry Truman. Syahdan, Ia meminta dicarikan ekonom dengan satu tangan. Ekonom, menurut Truman — dan Ia benar — selalu berfikir a la: “on the one hand ….. and on the other hand….

Dalam kerangka pikir itu, mari kita lihat program populis pasangan capres-cawapres yang disampaikan lewat iklan di KOMPAS. Dari banyak program, saya tertarik membahas: “Membagi sedikitnya 1 juta laptop kepada mahasiswa, guru dan pelajar!”

Mari kita awali dengan yang mudah.
On the one hand, program ini memungkinkan produktivitas mahasiswa, guru, dan pelajar menjadi meningkat. Mereka yang sebelumnya cuma bisa ber-komputer ria di rental komputer, sekarang bisa memakai komputer pribadi. Yang ritme kerjanya terhambat karena cuma punya PC, sekarang bisa bekerja di mana saja dan kapan saja. Dan manfaat – manfaat lainnya yang tentu masih banyak.

Apa on the other hand-nya?
Barusan saya browsing cepat. Saya temukan harga laptop termurah berada di kisaran US$ 300 sampai katakanlah US$ 1.000 (tentu, masih ada laptop lebih mahal dari itui). Dirupiahkan, angka itu menjadi sekitar Rp. 3 juta – Rp. 10 juta. Kali satu juta laptop, menjadi 3 T – 10 T. Di titik ini sebenarnya saya sangat ingin berkata, kata orang Jawa, opo sumbut? Pantas tidak uang segitu dipakai “cuma” untuk beli laptop? Apa tidak sebaiknya untuk bikin ini dan itu yang lain? Tapi lagi – lagi mari kita tinggalkan pikiran ini. Mari kita asumsikan bahwa duit 3 T – 10 T itu memang paling tepat dibelanjakan untuk laptop dan tidak ada hal lain yang lebih penting daripada laptop.

Apa efeknya?
Mengasumsikan komponen laptop adalah 100% impor, program “hebat” ini berpotensi mengikis devisa dan lebih jauh menekan nilai tukarupiah. Dengan peningkatan permintaan dolar sebesar 0,3 – 1 milyar dalam setahun, kurs rupiah berpotensi melemah signifikan. Pelemahan rupiah akan membuat harga barang impor menjadi naik. Apa saja barang impor itu? Banyak. Tapi yang pertama saya ingat adalah kedelai. Seperti yang terjadi di awal tahun kemarin, melonjaknya harga kedelai membuat tempe jadi mahal. Tempe jadi mahal, sumber gizi murah tertiadakan. Dalam jangka panjang, kurang gizi bisa menyebabkan kebodohan.

Ah, mungkin saya yang bodoh.
Tidak mungkin pasangan pengusung ekonomi kerakyatan buang – buang duit segitu banyak ke luar negeri tiap tahunnya. Mungkin ini sebuah trik cerdas untuk mendorong industri laptop dan turunannya di Indonesia bertumbuh.

Mari bikin asumsi kedua.
Beberapa komponen laptop HARUS dibikin di dalam negeri. Ambil 50%. Itu sama saja dengan bilang 500 ribu laptop HARUS diproduksi di Indonesia. Sama saja bilang pabrik laptop domestik HARUS mampu bikin 1.369 laptop dalam satu hari. Tidak peduli hari libur, tidak peduli puasa, tidak peduli listrik yang byar pet, tidak peduli dengan semua hal lainnya.

Kok sepertinya susah?
Mari kita longgarkan asumsinya. Mari kita turunkan. 250.000 laptop harus diproduksi tiap tahun (680 laptop sehari), tidak peduli hari libur dan tidak peduli dengan apapun lainnya. Asumsikan lagi bahwa industri dalam negeri mampu.

Apa konsekuensinya?
Perubahan yang drastis di perekonomian. Dana – dana perbankan mungkin banyak mengalir ke industri laptop dan turunannya. IT-related jobs akan makin dicari, dus, gaji mereka semakin tinggi. Industri laptop dan turunannya sumber daya. Menciptakan banyak tenaga kerja. Bagus bukan? Tentu on the one hand.

Bagaimana dengan on the other hand?
Bunga bank jadi semakin tinggi karena permintaan kredit meningkat. Industri laptop dan turunannya mungkin bisa membayar bunga tinggi, tapi bagaimana dengan industri yang lain yang return-nya lebih rendah secara relatif? Bagaimana UKMK?

Bukan hanya kapital, tenaga kerja-pun akan bergerak ke sana. Mengasumsikan pabrik – pabrik berlokasi di kota, banyak tenaga kerja akan meninggalkan desa. Keuntungan menanam padi mungkin tidak menarik lagi bagi petani dibanding, misalnya, jadi tukang ojek di dekat pabrik laptop. Tidak ada petani, tidak ada nasi. Tidak ada nasi, kelaparan menanti.

Dus, sejuta laptop setahun mencerdaskan bangsa, membuka lapangan pekerjaan, mendorong industri laptop dan turunannya bertumbuh (on the one hand) tapi menyebabkan urbanisasi, orang malas menanam padi, harga tempe jadi naik dan ujungnya kelaparan dan kebodohan (on the other hand).

Mungkinkah? Ah jangan – jangan saya jadi ikut Harry Truman: memperolok ilmu ekonomi dengan analisa omong kosong ini.

Bacaan “senada”:

1. Illuminating the Unseen by Russ Roberts.

2. Understanding Why Crime Fell in 1990s: Four Factors that Explain the Decline and Six that Do Not by Steven Levitt (in pdf)

Pintar atau Beruntung?

Thursday, March 12th, 2009

Saya meneruskan artikel ini ke milis PPSDMS. Di sana ditulis jika Prabowo dan saudaranya, Hashim, menguasai lebih dari 3 juta hektar tanah Indonesia, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ditambahkan juga bahwa mereka berdua menguasai hak pengolahan minyak di beberapa negara di Asia Tengah. Tidak perlu ditanyakan betapa kayanya mereka.

Selesai membaca artikel tersebut, saya malah jadi luntur semangat. Buat saya, jungkir-balik sekolah dan bekerja bertahun – tahun, kemungkinan bisa beli tanah setengah juta hektar saja di Indonesia mungkin tidak begitu besar peluangnya. (Apalagi kalau presidennya bukan Gus Dur, hehe…)

Reaksi seorang teman kurang lebih sama. Dia bertanya “Seberapa hebatnya sih Prabowo hingga dia bisa mencapai posisi seperti sekarang?”.

Dasar geek, yang ada di pikiran saya adalah beberapa strategi estimasi ekonometrika dan instrumental variabel. Ups, sorry.

Begini:

Pertanyaan yang (hampir) sama sudah lama ingin dijawab oleh para ekonom. Mereka ingin tahu seberapa besar sih sebenarnya return to education itu.

Seperti kita tahu, orang dengan pendidikan lebih tinggi secara rata-rata mempunyai gaji yang lebih tinggi daripada mereka yang pendidikannya lebih rendah.  Namun, logika juga mengatakan bahwa mereka yang memilih untuk bersekolah lagi adalah mereka yang mempunyai kemampuan (akademis, intelektual) di atas rata-rata. Nah pertanyaannya: “seberapa besarkah  (dari relatif-tingginya) gaji karyawan berpendidikan tinggi itu dikontribusikan oleh tambahan pendidikan mereka?”. Atau, bisa juga pertanyaannya diubah jadi: “Jika kita bisa menemukan dua orang sama persis kemampuan, kecerdasan dan pengalamannya, yang satu berpendidikan S1 dan yang lain berpendidikan S2, seberapa besar gaji mereka berdua bakal berbeda?”.

Tentu ini penting buat kebanyakan kita. Sebanding ga sih biaya yang kita keluarkan untuk sekolah lagi (biaya waktu, biaya uang, dan biaya kesempatan: kita ga dapat gaji karena kita ga bekerja) dengan kemungkinan kenaikan gaji kita di masa depan?

Kembali ke Prabowo, pertanyaannya menjadi:

Seberapa besarkah kesuksesan (kekayaan) Prabowo sekarang ini bisa dijelaskan oleh kepandaiannya? Tentu, untuk menjawabnya, kita harus mampu menghilangkan beberapa keistimewaan Prabowo (faktor anak menteri, menantu presiden, perwira tinggi ABRI, atau bahkan kakak ipar (mantan) gubernur BI).

Buat siapa jawaban pertanyaan ini penting?

  • Buat yang ingin mencebur ke aktivitas politik. Anda bisa mengira-ngira seberapa besar potensi ‘keuntungan’ yang anda dapat jika anda dekat dengan kekuasaan.
  • Buat pengambil kebijakan publik. Seberapa besar dari ‘keuntungan’ dekat dengan kekuasaan ini bisa diidentifikasi sebagi nepotisme dan atau korupsi.
  • Buat mahasiswa PhD yang kesulitan mencari topik disertasi. Saya pastikan topik ini bisa dipublikasikan di American Economic Review!

Sebelum ditutup:

Simak cerita berikut ini. Meskipun (relatif) sama – sama dekat dengan kekuasaan, kekayaan Fahmi Idris (pemilik Four Seasons hotel) sangat jauh berbeda dengan Prabowo. Apa ini indikasi bahwa kepandaian mereka berdua juga berbeda jauh?

Terakhir, sejauh yang saya tahu, topik semacam ini pernah dibahas di Chapter 2 buku Economic Gangster dengan Tommy (dan anak2 presiden Soeharto lainnya) sebagai studi kasusnya.